Jumat, 14 Maret 2014

MINERALOGI DAN PETROLOGI

NAMA
KELAS
TUGAS
: AGUSTINA B. MOHAMAD
: GEOGRAFI B
: MINERALOGI DAN PETROLOGI

SOAL
1.  Apa yang dimaksud dengan kristalografi dan mineralogi?
2.  Jelaskan cara penggambaran 7 sistem kristal dan berikan masing-masing 5 contoh mineralnya!
3.  Jelaskan tata cara identifikasi mineral secara fisik!
4.  Jelaskan cara pengklasifikasian mineral, berikan masing-masing 3 contoh mineralnya dan kegunaannya!

JAWABAN
1.  Kristalografi adalah suatu ilmu pengetahuan kristal yang dikembangkan untuk mempelajari perkembangan dan pertumbuhan kristal, termasuk bentuk, struktur dalam dan sifat-sifat fisiknya. Mineralogi adalah ilmu yang secara alami mengikutsertakan substansi padat yang merupakan bagian dari alam semesta.

2.  Cara penggambaran 7 sistem kristal:
a.   Sistem Isometrik
Sistem ini juga disebut sistem kristal regular, atau dikenal pula dengan sistem kristal  kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing sumbunya.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Isometrik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu a = b = c, yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalnya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚).





Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Isometrik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c juga ditarik garis dengan nilai 3 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.
Sistem isometrik dibagi menjadi 5 Kelas, yaitu: Tetaoidal, Gyroida, Diploida, Hextetrahedral dan Hexoctahedral.
Beberapa contoh mineral dengan system kristal Isometrik ini adalah gold, pyrite, galena, halite, Fluorite (Pellant, chris: 1992).

b.  Sistem Tetragonal
Sama dengan system Isometrik, sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama. Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya lebih panjang.
Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalografinya (α , β dan γ) tegak lurus satu sama lain (90˚).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Tetragonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.
Sistem tetragonal dibagi menjadi 7 kelas, yaitu: Piramid, Bipiramid, Bisfenoid, Trapezohedral,       Ditetragonal Piramid, Skalenohedral, Ditetragonal Bipiramid.
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal ini adalah rutil, autunite, pyrolusite, Leucite, scapolite (Pellant, Chris: 1992).

c.   Sistem Hexagonal
Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain. Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Hexagonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+. Sistem  ini dibagi menjadi 7, yaitu: Hexagonal Piramid, Hexagonal Bipramid, Dihexagonal Piramid, Dihexagonal Bipiramid, Trigonal Bipiramid, Ditrigonal Bipiramid, dan Hexagonal Trapezohedral.
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz, corundum, hematite, calcite, dolomite, apatite. (Mondadori, Arlondo. 1977).


d.  Sistem Trigonal
Jika kita membaca beberapa referensi luar, sistem ini mempunyai nama lain yaitu Rhombohedral, selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal Hexagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem Trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.
Pada kondisi sebenarnya, Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Trigonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+. Sistem ini dibagi menjadi 5 kelas: Trigonal piramid, Trigonal Trapezohedral, Ditrigonal Piramid, Ditrigonal Skalenohedral, dan Rombohedral.
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Trigonal ini adalah  tourmaline dan cinabar (Mondadori, Arlondo. 1977).
e.   Sistem Orthorhombik
Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, ketiga sudutnya saling tegak lurus (90˚).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ. Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas, yaitu: Bisfenoid, Piramid dan Bipiramid.
Beberapa contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah stibnite, chrysoberyl, aragonite dan witherite (Pellant, chris. 1992).



f.    Sistem Monoklin
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek.
Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ. Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut α dan β saling tegak lurus (90˚), sedangkan γ tidak tegak lurus (miring).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ. Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas, yaitu: Sfenoid, Doma, dan Prisma.
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite,  malachite, colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992).



g.   Sistem Triklin
Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚. Hal ini berarti, pada system ini, sudut α, β dan γ tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 45˚ ; bˉ^c+= 80˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ dan bˉ membentuk sudut 80˚ terhadap c+. Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas, yaitu: Pedial dan Pinakoidal.
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite, anorthite, labradorite, kaolinite, microcline dan anortoclase (Pellant, chris. 1992).

PENGERTIAN UMUM BATUAN SEDIMEN DAN KLASIFIKASINYA



PENGERTIAN UMUM BATUAN SEDIMEN DAN KLASIFIKASINYA

A. Batuan Sedimen di Bumi

Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya mengandung 5% yang diketahui di litosfera dengan ketebalan 10 mil di luar tepian benua, dimana batuan beku metabeku mengandung 95%. Sementara itu, kenampakan di permukaan bumi, batuan-batuan sedimen menempati luas bumi sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku sebesar 25% saja. Batuan sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali. Ketebalan batuan sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap singkapan memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat ketebalannya hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari yang lebih tipis darim0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer, sedangkan ketebalan rata-rata sekitar 1 kilometer (Endarto, 2005 ).

Total volume dan massa dari batuan-batuan sedimen di bumi memiliki perkiraan yang berbeda-beda, termasuk juga jalan untuk mengetahui jumlah yang tepat. Beberapa ahli dalam bidangnya telah mencoba untuk mengetahui ketebalan rata-rata dari lapisan batuan sedimen di seluruh muka bumi. Clarke (1924) pertama sekali memperkirakan ketebalan sedimen di paparan benua adalah 0,5 kilometer. Di dalam cekungan yang dalam, ketebalan ini lebih tinggi, lapisan tersebut selalu bertambah ketebalannya dari hasil alterasi dari batuan beku, oksidasi, karonasi dan hidrasi. Ketebalan tersebut akan bertambah dari hasil rombakan di benua sehinngga ketebalan akan mencapai 2.200 meter. Volume batuan sedimen hasil perhitungan dari Clarke adalah 3,7 x 108  kilometer kubik (Clarke ,1924).

B. Pengertian Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan ( Pettijohn, 1975 ).

Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting lagi yang termasuk kedalam batuan sedimen. Disbanding dengan batuan beku, batuan sedimen hanya merupakan tutupan kecil dari kerak bumi. Batuan sedimen hanya 5% dari seluruh batuan-batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah 5% ini,batu lempung adalah 80%, batupasir 5% dan batu gamping kira-kira 80% ( Pettijohn, 1975 )..

Berdasarkan ada tidaknya proses transportasi dari batuan sedimen dapat dibedakan menjadi 2 macam :

1. Batuan Sedimen Klastik; Yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal dari hancuran batuan lain. Kemudian tertransportasi dan terdeposisi yang selanjutnya mengalami diagenesa.

2. Batuan Sedimen Non Klastik; Yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami proses transportasi. Pembentukannya adalah kimiawi dan organis.

Sifat – sifat utama batuan sedimen :

    Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan adanya proses sedimentasi.
    Sifat klastik yang menandakan bahwa butir-butir pernah lepas, terutama pada golongan detritus.
    Sifat jejak adanya bekas-bekas tanda kehidupan (fosil).
    Jika bersifat hablur, selalu monomineralik, misalnya : gypsum, kalsit, dolomite dan rijing.

C. Penggolongan Dan Penamaan Batuan Sedimen

Berbagai penggolongan dan penamaan batuan sedimen telah dikemukakan oleh para ahli, baik berdasarkan genetis maupun deskriptif. Secara genetik disimpulkan dua golongan ( Pettijohn, 1975 ).

C.1. Batuan Sedimen Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri. ( Pettjohn, 1975).

Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batupasir bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau, serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam ( Pettjohn, 1975)..

Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan ( Pettjohn, 1975 ).

Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni, proses proses-proses yang berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras ( Pettjohn, 1975).

Proses diagenesa antara lain :

1. Kompaksi Sedimen

Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.

2. Sementasi

Yaitu turunnya material-material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar.

3. Rekristalisasi

Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan batuan karbonat.

4.   Autigenesis

Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorita, gypsum dll.

5.  Metasomatisme

Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal.

C.2. Batuan Sedimen Non Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung atau reaksi organik (Pettjohn, 1975).
Gambar Klasifikasi Batuan Sedimen Berdasarkan Koesoemadinata (1981)

Gambar Klasifikasi Batuan Sedimen Berdasarkan Koesoemadinata (1981)

Menurut R.P. Koesoemadinata, 1981 batuan sedimen dibedakan menjadi enam golongan yaitu :

1.Golongan Detritus Kasar

Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam golongan ini antara lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir. Lingkungan tempat pengendapan batuan ini di lingkungan sungai dan danau atau laut.

2. Golongan Detritus Halus

Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan laut dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala golongan ini adalah batu lanau, serpih, batu lempung dan Nepal.

3. Golongan Karbonat

Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya tergantung pada material penyusunnya.

4. Golongan Silika

Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.

5. Golongan Evaporit

Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat  memungkinkan terjadi pengayaan unsure-unsur tertentu. Dan faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari larutan tersebut. Batuan-batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu garam.

6. Golongan Batubara

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.

Sabtu, 08 Maret 2014

Profil Desa Bokat

TUGAS
GEOGRAFI DESA-KOTA
“PROFIL DESA BOKAT”


UNG-Logo.jpg


Oleh:
NAMA
NIM
KELAS
: AGUSTINA B. MOHAMAD
: 451 411 067
: GEOGRAFI B








UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA/PROGRAM STUDI GEOGRAFI
2013
1.        SEJARAH SINGKAT DESA BOKAT
Bokat berasal dari bahasa asli daerah Buol, yang merupakan bahasa asli daerah setempat, “Bokat” yang berarti bukit-bukit atau gunung-gunung jantan yang kecil-kecil yang diantara bukit-bukit yang kecil-kecil itu terdapat genangan air didaerah sepanjang pesisir pantai laut desa Bokat, karena dengan keadaan seperti itulah para tua-tua masyarakat memberi nama desa Bokat. Pada awalnya desa Bokat belum ada, yang ada pada waktu dulu adalah desa Kantanan dan desa Bongo sedangkan desa Bokat sendiri pada saat itu masuk pada desa Kantanan dan desa Bongo.
Setelah pada tahun 1903 secara resmi desa Bokat memisahkan diri dari pemerintahan wilayah desa Kantanan dan desa Bongo. Saat ini yang memerintah sebagai kepala desa Bokat adalah Bapak Amal Hamid. Beliau menjabat sebagai kepala desa Bokat sejak tanggal 20 Agustus 2008 dan merupakan kepala desa Bokat yang ke-23.

Berdasarkan keputusan Bupati Buol Nomor 141/7026/BPM-PEMDES menghantarkan Bapak Amal Hamil sebagai kepala desa Bokat berkewajiban menyampaikan pelaksanaa tugas yang beliau emban selama ini, yaitu sebagai berikut:
1.    Sebagai administrasi pemerintahan
2.    Sebagai administrasi pembangunan
3.    Sebagai administrasi kemasyarakatan

2.        PROGRAM KERJA DAN P[ELAKSANAAN KEGIATAN
Pelaksanaan program kerja desa Bokat tahun 2009 misalnya seperti yang tertera dalam laporan ini diawali sejak pelantikan kepala desa Bokat pada tanggal 19 Agustus 2008.




Adapun kegiatan tersebut terdiri dari tiga bidang, yaitu:
1.    Bidang Pemerintahan
a.    Dalam pelaksanaan pemerintahan ditetapkan tugas-tugas pemerintahan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan yang telah terjadwalkan. Adapun uraian kegiatannya sebagai berikut:
1)   Pembinaan aparatur desa
2)   Rapat koordinasi antar perangkat desa, lembaga kemasyarakatan yang ada di desa dan BPD.
3)   Penyelenggaraan rapat/pertemuan secara rutin
4)   Pembinaan lembaga-lembaga kemasyarakatan
5)   Penagihan PBB secara door to door ini dimaksudkan untuk mengintensifkan pemasukan PBB yang sampai sekarang ini telah mencapai 50% yakni sampai dengan tanggal 11 mei 2009 yang tertagih sebesar Rp. 8.000.000-, dari total jumlah pajak terhutang sebesar Rp. 16.245.253-,.
b.    Pembinaan ketentraman dan keadilan
Upaya untuk pelaksanaan pembinaan ketentraman dan ketertiban secara maksimal yaitu adanya kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah serta menjalin kemitraan dengan BABINKABITMAS yang ditugaskan di desa Bokat, juga sosialisasi program pemerintah daerah dibanding kebersihan, ketertiban, dan keindahan wilayah desa, kecamatan dan kabupaten.
c.    Pembinaan pertahanan sipil yaitu untuk melaksanakan tugas yang membantu terciptanya ketertiban dan keamanan didesa dengan langkah-langkah yang ditempuh yaitu sebagai berikut:
1)   Bekerjasama dengan BABINKANTIBNAS mengadakan pembinaan/penyuluhan tentang bahaya narkoba, minuman keras, judi, dan lain-lain.
2)   Mengikutsertakan anggota linmas sebanyak 16 orang dalam rangka pendidikan dan latihan perlindungan dan masyarakat dan kepentingan pemilihan legislatif tahun 2009 di Bokat.


d.   Pengelolaan keuangan
Sebagai gambaran tentang besarnya keungan yang dikelolah untuk membiayai seluruh program kerja pemerintah desa Bokat dapat digambarkan sebagai berikut:
No
Tahun Anggaran
APBD
Swadaya
Jumlah
1.
2.
2008
2008
APBD
APBD I
Rp. 175.250.000-,
17.500.000-,
  5.000.000-,

2.    Bidang Pembangunan
Dana tersebut diatas bersumber dari pemerintah daerah dan sebagian bersumber dari swadaya masyarakat dan yang bersumber dari APBD dan APBD I sebesar Rp. 22.500.000-, digunakan untuk:
a.    Kegiatan fisik
b.    Kegiatan nonfisik
c.    Biaya perjalanan dinas
d.   Biaya pembentukan dan pelantikan LPM
e.    Biaya pemeliharaan kendaraan dinas
f.     Dukungan biaya kegiatan keagamaan
g.    Dukungan biaya pelaksanaan pemilihan kepala desa bersumber dari swadaya/partisipasi masyarakat sebesar Rp. 175.250.000-, tergambar pada pelaksanaan kegiatan sejak dari lomba antar dusun sampai lomba desa tingkat provinsi Sulawesi Tengah. Dengan tahapan pelaksanaan kegiatan sebagai berikut:
1)   Perbaikan pagar serta pengecatan
2)   Pembuatan pintu gerbang
3)   Pembuatan hatinya PKK
4)   Pembuatan papan DASA WISMA
5)   Pembuatan pos kamling
6)   Pembuatan aksesoris
7)   Pembuatan tong sampah
8)   Kebersihan lingkungan
3.    Bidang Kemasyarakatan
Kegiatan dibidang kemasyarakatan terdiri dari beberapa kegiatan antara lain:
a.    Mengadakan kegiatan kepemudaan dan olah raga yakni pertandingan olah raga sepak bola antar dusun.
b.    Setiap tanggal 15 sampai 30 setiap bulan berjalan diadakan pengajian tingkat desa yang kegiatannya dimasing-masing dusun.
c.    Setiap tanggal 09 bulan berjalan diadakan kegiatan posyandu.
d.   Melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus pembinaan serta sosialisasi program pemerintah daerah.

4.    Faktor Pendukung
Keberhasilan desa Bokat dalam melaksanakan pembangunan disebabkan beberapa faktor yaitu:
a.    Semangat dan jiwa kebersamaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan relatif cakap.
b.    Terjalinnya kerjasama antar pemerintah lembaga-lembaga kemasyarakatan dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya dalam menghimpun dana untuk kegiatan pembangunan desa.
c.    Adanya perhatian, bimbingan serta pembinaan dari pemerintah, baik pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten.

3.        LETAK GEOGRAFIS DESA BOKAT
Secara geografis wilayah desa Bokat adalah desa yang membujur dari utara ke selatan yang terdiri dari 3 Dusun, 3 RW dan 3 RT dengan luas wilayah:
Luas desa Bokat
Jalan provinsi
Jalan daerah
Jalan desa
Jarak ke ibukota kecamatan
Jarak ke ibukota kabupaten
: 14,88 km
: 2,9 km
: 2,9 km
: 2,9 km
: 1000 m
: 15 km
4.        BATAS WILAYAH DESA BOKAT
Adapun batas-batas wilayah desa Bokat adalah sebagai berikut:
a.    Sebelah utara berbatasan dengan Laut Sulawesi
b.    Sebelah selatan berbatasan dengan desa Butukan dan Kodolagon
c.    Sebelah timur berbatasan dengan desa Tang yang merupakan pemekaran desa Bokat.
d.   Sebelah barat berbatasan dengan desa Kantanan.

5.        JUMLAH PENDUDUK
Berikut ini merupakan jumlah peduduk berdasarkan data pada tahun 2009.
Jumlah penduduk
Laki-laki
Perempuan
Jumlah kepala keluarga
Jumlah rumah tangga miskin
Kelompok dasa wisma
Pengurus inti PKK
: 1.529 jiwa/orang
:    763 jiwa
:    766 jiwa
: 376 KK
: 90 RTM
: 20 kelompok
: 10 orang ditambah anggota

6.        TOPOGRAFI DESA BOKAT
wilayah desa Bokat dengan luas wilayah 2.880 ha yang terdiri atas dataran rendah dan dataran pegunungan dan panjang pantai 2,9 km serta persawahan tadah hujan ± 150 ha.

7.        SARANA PEMERINTAHAN
Kantor Desa
Balai Desa
Kantor PKK
: 1 Unit
: 1 Unit
: 1 Unit



8.        PRASARANA PENDIDIKAN
Taman Kanak-kanak
Sekolah Dasar Negeri (SD)
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
: 1 Unit
: 2 Unit
: 1 Unit
: 1 Unit
: 1 Unit

9.        SARANA PERIBADATAN
Masjid
Mushollah
Gereja
: 2 Unit
: 1 Unit
: 1 Unit

10.    PRASARANA KESEHATAN
Puskesmas
MCK
Jumlah Jamban Permanen
Pembuangan Air Limbah
Sumur
: 1 Unit
: 1 Unit
: 171 Unit
: 31 Unit
: 209 Unit

11.    PRASARANA PEMASARAN
Pasar Desa     : 1 Unit

12.    PRASARANA KEAMANAN
Pos Kamling  : 3 Unit
Pendidikan
a)    Tidak tamat SD : 25 Orang
b)   Tamat SD : 271 Orang
c)    Tamat SMP : 299 Orang
d)   Tamat SMA : 93 Orang
e)    Sarjana : 56 Orang
Yang sementara belajar dibangku pendidikan termasuk balita sebanyak 352 orang.

13.    KESEHATAN
Posyandu
Pos KB
Pelayanan Media
Kegiatan BKB
: 1 Unit
:
: Aktif
: Aktif

14.    BIDANG AGAMA
Pengajian
Santri
: Ada
: Ada

15.    KEADAAN EKONOMI
Petani
Pedagang
Nelayan
Pegawai
Lain-lain
: 45,3 %
: 3,46 %
: 23,7  %
: 5,19 %
: 23,35 %











STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAHAN
DESA BOKAT
 



KAUR
UMUM
 
KAUR
PEMBANGUNAN

 
KAUR
PEMERINTAHAN
 
URUSAN TEKNIS
 
SEKRETARIS DESA
 
KADUS I
 
KADUS III
 
KADUS II
 
 






















Sumber: Presentase Profil Desa Bokat Dalam Rangka Penilaian Lomba Desa Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah